KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Dan makalah ini
disusun guna melengkapi tugas Ilmu Budaya Dasar. Dalam penyusunan makalah ini,
dengan kerja keras dan dukungan dari berbagai pihak, saya telah berusaha untuk
dapat memberikan serta mencapai hasil yang semaksimal mungkin dan sesuai dengan
harapan, walaupun di dalam pembuatannya saya menghadapi berbagai kesulitan
karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang saya miliki.
Oleh sebab itu pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya khususnya kepada Dosen pembimbing Ilmu Budaya Dasar. Saya
menyadari bahwa dalam penulisan dan pembuatan penulisan ilmiah ini, masih
terdapat banyak kekurangan oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat
saya butuhkan untuk dapat menyempurnakannya di masa yang akan datang. Semoga
apa yang disajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi saya dan teman-teman
maupun pihak lain yang berkepentingan.
Palu, 24 juni2014
Penulis
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR . .............................................................i
DAFTAR ISI
............................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
...................................................................1
1.2 Rumusan Masalah
..............................................................3
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
.................................................3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Penderitaan
.......................................................4
2.2 Penderitaan dan Sebabnya
..................................................8
2.3 Pengaruh Penderitaan
.........................................................8
2.4 Studi Kasus
.........................................................................8
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan
........................................................11
3.2
Saran
..................................................................11
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULAN
1.1 Latar Belakang
Manusia didunia ini dihadapkan pada
dua cobaan yaitu cobaan yang mengembirakan dan cobaan yang menyusahkan. Cobaan
tersebut berupata tahapan dan rintangan yang menguji manusia dalam kehidupan
apabila mampumenyelesaikan dengan baik akan mewndapatkan pahala dan bila
mengingkarinya ketentuan yang ada akan tenggelam dalam penderitaan
di akhirat kelak.
Terkadang
manusia terbuai pada kegembiraan, padahal kegembiran juga cobaan. Manusia
seringkali tergelincir akibat keterlenaan dan berlebihan serta melampaui
batatas dan berujung pada penderitaan. Sementara ada pula yang
menghadapi cobaan yang menyusahkan namun tidak kuat menjalani cobaan. Orang
tersebut menjadi frustasi dan meluapkan emosi tanpa kontrol. Sikap seperti itu
malah semakin menambah penderitaan. Adapula ketika merasa kesabaran sudah
dibatas perjuangan berhenti melakukan perjuangan padahal keinginan yang diharapkan
selangkah lagi tercapai sehingga tetap pada pendedritaan dan
menyesal ketika harapan yang dicitakan berlalu begitusaja dihadapanya. Ada pula
yang menjalani hidup dengan sikap noverkonviden (bermain aman), tidak mau
menghadapi masalah atau lari ndari masah namun yang terjadi mendapati pada
suatu penderitaan. Ada pula yang mencoba berkelik dari masalah dan hanya
mengincar kebahagiaan dunia namun di akhirat berujung pada penderitan.
Manusia di dunia ini tidak akan pernah
lepas dari yang namanya masalah baik yang menyusahkan atau yang
menggembirakan. Masalah timbul karena adanya kesenjangan antara harapan dan
kenyataan. Proses dalam menghadapi kesenjangan seringkali dihadapkan pada
lika-liku kehidupan yang sering dianggap sebagai suatau penderitaan.
Susah
maupun senang merupakan dua agenda yang silih berganti tejadi dalam kehidupan
manusia. Habis susah ada senang dan habis senang ada susah. Manusia selalu
untuk berusaha menjadi lebih baik. Manusia perlu menjalani proses di dunia ini
untuk mencari bekal untuk akherat dengan menjalani suka duka yang ada di
dunia.
Manusia
juga dituntut untuk keimanan Terhadap Tuhannya baik duka maupun duka untuk
semakin mendekatkan diri. Manusia sepatutnya bukan mengeluh dan meratapi
penderitaan. Namun harus bangkit mengolah penderitaan menjadi sesuatu yang
bernilai lebih berharga. Dan terus belajar menelusuri kehidupan karena
ada hikmah dibalik penderitaan.
Penderitaan
datang tak terduga begitupula kebahagian datang dari celah tak terduga.
Sehingga manusia dituntut untuk siap siaga dalam menghadapi suka maupun duka di
kehidupan ini. Dan sepatutnya kita berani menghadapi dalam menyelesaikan
persoalan hidup ini, tidak pilih-pilih saat senang semangat sat susah loyo,
atau saat duka tabah saat senang tidak bersukur. Kita perlu belajar dari
pengalaman dan cepat bankit saat tergelincir semangat juga bukan semangat yang melampaui batas, dan berusaha
menenenagkan hati, sabar menghadapi penderitaan hati iklas lilahita
ala mengharap ridho Allah. Karena solusi-solusi saat menghadapi penderitaan
akan mudah muncul saat hati tenang dan berfikir jernih. Berbeda dengan
tergesa-gesa menyebabkan solusi di depan mata terlihat jauh. Dan terkadang hal
penunjang terabaikan sehingga menambah masalah baru. kita juga bukan hanya
menunggu desakan solusi tapi perlu menyambut solusi.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
diatas maka dapat di rumuskan sebagai berikut :
1.
Apa pengertian dari penderitaan?
2. Apa hubungan manusia dengan penderitaan?
3. Bagaimana cara manusia menghadapi penderitaan?
4. Apa saja sebab-sebab terjadinya penderitaan?
5. Apa pengaruh dari penderitaan yang di hadapi manusia?
2. Apa hubungan manusia dengan penderitaan?
3. Bagaimana cara manusia menghadapi penderitaan?
4. Apa saja sebab-sebab terjadinya penderitaan?
5. Apa pengaruh dari penderitaan yang di hadapi manusia?
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan dilakunkanya penulisan makalah ini adalah :
1.
Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian penderitaan
2.
Mahasiswa dapat memahami hubungan manusia dengan penderitaan.
3. Mahasiswa dapat menemukan solusi dalam menghadapi pender
3. Mahasiswa dapat menemukan solusi dalam menghadapi pender
4.Mahasiswa
dapat memahami penyebab terjadinya penderitaan
5.
Mahasiswa dapat memahahami pengaruh penderitaan yang di hadapi dalam kehidupan
manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Penderitaan
Penderitaan berasal dari kata dasar
derita. Sementara itu kata derita merupakan serapan dari bahasa sansekerta,
menyerap kata dhra yang memiliki arti menahan atau menanggun. Jadi dapat
diartikan penderitaan merupakan menanggung sesuatu yang tidak meyenakan.
Penderitaaan dapat muncul secara lahiriah, batiniah atau lahir-batin.
Penderitaan secara lahiriah dapat timbul karena adanya intensitas komkosisi
yang mengalami kekurangan atau berlebihan, seperti akibat kekurangan pangan
menjadi kelaparan, atau akibat makan terlalu banyak menjadi kekenyangan, tidak
dapat dipungkiri keduanya dapat menimbulkan penderitaan. Adapula kondisi alam
yang ekstrem, seperti ketika terik matahari membuat kepanasan, atau saat
kehujanan membuat kedinginan.
Ada pula penderitaan yang secara
lahiriah seperti sakit hati karena dihina, sedih karena kerabat meninggal,
putus asa karena tidak lulus ujian. Atau penyesalan karena tidak melakukan yang
diharapkan. Sementara yang lahir-batin dapat muncul dikarenakan penderitaan
pada sisi yang satu berdampak pada sisi yang lain atau dengan kata lain
penderitaan lahiriah memicu penderitaan batiniah atau sebaliknya. Misal akibat
kehujanan badan menjadi kedinginan namun tidak ada tempat berteduh akibatnya
mendongkol, risau atau menangis. Ada pula karena putus asa tidak lulus ujian
menjadi tidak mau makan dan menimbulkan perut sakit.
Intensitas penderitaan
bertingkat-tingkat, dari yang terberat hingga ringgan. Persepsi pada setiap
orang juga berpengaruh menentukan intensitas penderitaan. Suatu kejadian
dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu dianggap penderitaan bagi orang
lain. Dalam artian suatu permasalahan sederhana yang dibesar-besarkan akan
menjadi penderitaan mendalam apabila disikapi secara reaksioner oleh individu.
Ada pula masalah yang sangat urgen disepelekan juga dapat berakibat fatal dan
menimbulkan kekacauan kemudian terjadi penderitaan.
Manusia tidak dapat mengatakan
setiap situasi masalahnya sama, penderitaanya sama solusinyapun sama.
Penderitaan bersifat universal dapat datang kepada siapapun tidak peduli kaya
maupun miskin, tua maupun muda. Penderitaan dapat muncul kapanpun dan
dimanapun. Semisal saat seminar di siang hari, suasana pengap, ada kipas
anginpun masih kipas-kipas membayangkan ruang ber AC, dan pulang tidur
merentangkan badan di kasur empuk. Atau makan buah segar dan minum air dingin.
Namun pasien rumah sakit di ruang VIP, tidur di kasur empuk ruang ber-AC,
banyak buah segar dan air segar di kulkas, merasa tidak betah dan ingin cepat
pulang. Ada lagi orang yang tidak mempunyai uang merasa menderita tidak dapat
wisata saat liburan, namun ada pula orang yang berpergian membawa uang banyak
tanpa bekal hendak liburan ternyata mobil mogok di daerah yang jauh dari
permukiman, dan saat makan siang tiba, rasa lapar mulai muncur, ternyata uang
tidak dapat menolong dari penderitaan karena tidak ada barang yang bisa di
beli, terlebih muncul rasa gengsi atau keegoisan penumpang lain menambah
penderitaan.
Penderitaan merupakan realita
kehidupan manusia di dunia yang tidak dapat dielakan. Orang yang bahagia juga
harus siap menghadapi tantangan hidup bila tidak yang muncul penderitaan. Dan
orang yang menghadapi cobaan yang bertubi-tubi harus berpengharapan baik akan
mendapatkan kebahagian. Karena penderitaan dapat menjadi energi untuk bangkit
berjuang mendapatkan kebahagian yang lalu maupun yang akan datang.
Akibat penderitaan yang
bermacam-macam manusia dapat mengambil hikmah dari suatu penderitaan yang
dialami namun adapula akibat penderitaan menyebabkan kegelapan dalam kehidupan.
Sehingga penderitaan merupakan hal
yang bermanfaat apabila manusia dapat mengambil hikmah dari penderitaan yang
dialami. Adapun orang yang berlarut-larut dalam penderitaan adalah orang yang
rugi karena tidak melapaskan diri dari penderitaan dan tidak mengambil hikmak
dan pelajaran yang didapat dari penderitaan yang dialami.
Penderitaan juga dapat
"menular" dari seseorang kepada orang lain. Misal empati dari
sanak-saudara untuk membantu melepaskan penderitaan. Atau sekedar simpati dari
orang lain untuk mengambil pelajaran dan perenungan.
Contoh gamblam penderitaan manusia
yang dapat diambil hikmahnya diantaranya tokoh filsafat ekistensialisme Kierkegaard
(1813-1855) seorang filsafat asal Denmark yang sebelum menjadi filsafat besar,
sejak masa kecil banyak mengalami penderitaan. Penderitaan yang menimpanya,
selain melankoli karena ayahnya yang pernah mengutuk Tuhan dan berbuat dosa
melakukan hubungan badan sebelum menikah dengan ibunya, juga kematian delapan
orang anggota keluarganya, termaksud ibunya, selama dua tahun berturut-turut.
Peristiwa ini menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi Soren Kierkegaard, dan
ia menafsirkan peristiwa ini sebagai kutukan Tuhan akibat perbuatan ayahnya.
Keadaan demikian, sebelum Kierkegaard muncul sebagai filsuf, menyebabkan dia
mencari jalan membebaskan diri (kompensasi) dari cengkraman derita dengan jalan
mabuk-mabukan. Karena derita yang tak kunjung padam, Kierkegaard mencoba
mencari “hubungan” dengan Tuhannya, bersamaan dengan keterbukaan hati ayahnya
dari melankoli. Akhirnya ia menemukan dirinya sebagai seorang filsuf
eksistensial yang besar.
Penderitaan Nietzsche (1844-1900),
seorang filsuf Prusia, dimulai sejak kecil, yaitu sering sakit, lemah, serta
kematian ayahnya ketika ia masih kecil. Keadaan ini menyebabkan ia suka
menyendiri, membaca dan merenung diantara kesunyian sehingga ia menjadi filsuf
besar.
Lain lagi dengan filsuf Rusia yang bernama Berdijev (1874-1948).
Sebelum dia menjadi filsuf, ibunya sakit-sakitan. Ia menjadi filsuf juga akibat
menyaksikan masyarakatnya yang sangat menderita dan mengalami ketidakadilan.
Sama halnya dengan filsuf Sartre (1905-1980) yang lahir di
Paris, Perancis. Sejak kecil fisiknya lemah, sensitif, sehingga dia menjadi
cemoohan teman-teman sekolahnya. Penderitaanlah yang menyebabkan ia belajar
keras sehingga menjadi filsuf yang besar. Masih banyak contoh lainnya yang
menunjukkan bahwa penderitaan tidak selamanya berpengaruh negatif dan
merugikan, tetapi dapat merupakan energi pendorong untuk menciptakan
manusia-manusia besar
Contoh lain ialah penderitaan yang
menimpa pemimpin besar umat Islam, yang terjadi pada diri Nabi Muhammad.
Ayahnya wafat sejak Muhammad dua bulan di dalam kandungan ibunya. Kemudian,
pada usia 6 tahun, ibunya wafat. Dari peristiwa ini dapat dibayangkan
penderitaan yang menimpa Muhammad, sekaligus menjadi saksi sejarah sebelum ia
menjadi pemimpin yang paling berhasil memimpin umatnya (versi Michael Hart dalam
Seratus Tokoh)
Dalam riwayat hidup Bhuda Gautama
yang dipahatkan dalam bentuk relief Candi Borobudur, terlihat adanya
penderitbn. Tergambar seorang pangeran (Sidharta) yang meninggalkan istana yang
bergelimangan hata, memilih ke hutan untuk menjadi biksu dan makan dengan cara
megembara di hutan yang penuh penderitaan.
Riwayat tokoh tokoh besar di
Indonesia pun dengan penderitaan. Buya Hamka mengalami penderitaany hebat pada
masa kecil, hingga ia hanya mengecap sekolah kelas II. Namun ia mampu menjadi
orang besar pada zamanya, berkat perjuangan hidup melawan penderitaan. Contoh
lain adalah Bung Hata yang beberapa kali mengalami pembuangan namun pada
akhirnya ia dapat menjadi pemimpin bangsanya.
Ketika membaca kisah tokoh-tokoh
besar tersebut, kita dihadapkan pada jiwa besar, berani karena benar, rasa
tangung-jawab, dan sebagainya. Dan tidak ditemui jiwa munafik plin-plan,
dengki, iri dan sebagainya.
Di bawah ini adalah beberapa contoh penderitaan yang mungkin
sering kita lihat di lingkungan kita:
1. Pemutusan
hak kerja :
Bagi orang yang sudah berkeluarga mungkin penderitaan ini yang paling di
takutkan apalagi bagi seorang ayah yang mempunyai kewajiban menafkahi
keluarganya,hal ini akan berdampak buruk tidak hanya bagi sang ayah namun juga
bagi keluarganya
2. Kehilangan
orang tua :
Hubungan kita dengan orang tua merupakan suatu hubungan yang unik. Oleh sebab
itu pasangan diharapkan bisa memahami makna kehilangan ini. Misalnya dengan
berusaha menggantikan posisinya demi mendukung pasangan. Antara lain dengan
cara selalu berada di dekatnya, menjadi pendengar yang baik, dan selalu siap
membantunya.
3. Kemiskinan : Dalam hal ini mungkin semua
orang menderita mengalami kemiskinan.namun miskin disini bukan miskin melarat
melainkan hidup pas-pasan.bagi sebagaian orang hidup seperti itu tidak enak
namun bagi orang lain mungkin hidup seperti itu lebih baik dari pada berlimpah
harta namun anggota keluarga tidak bahagia,semua di atur oleh uang,sibuk dengan
tugas masing”,tidak ada komunikasi.hal itu di buktikan dengan adanya kata-kata
” makan ga makan yang penting kumpul”.
4. Bencana : Tidak ada yang dapat
menghindari sebuah bencana yang diberikan oleh Allah SWT. Bencana yang datang
dapat menghilangkan sebagian ataupun seluruh harta benda yang ada, bahkan
dapat mengakibatkan kehilangan anggota keluarga. Trauma yang diakibatkan oleh
bencana juga sulit untuk dipulihkan. Hal ini membutuhkan banyak waktu untuk
seseorang kembali bangkit dan hidup normal dengan membangun kehidupannya
seperti sedia kala.
2.2 Penderitaan dan Sebabnya
Sebab-sebab
Timbulnya Penderitaan
1. Penderitaan yang timbul karena
perbuatan buruk manusia.
2. Penderitaan yang timbul karena
penyakit, siksaan / azab Tuhan.
2.3 Pengaruh Penderitaan
Pengaruh yang Akan Terjadi pada Seseorang
Jika Mengalami Penderitaan
Orang
yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam dan
sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap
negative. Sikap negative misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap
kecewa, putus asa, ingin bunuh diri. Sikap ini diungkapkan dalam peribahasa
“sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”, “nasi sudah menjadi
bubur”. Kelanjutan dari sikap negative ini dapat timbul sikap anti, misalnya
anti kawin atau tidak mau kawin, tidak punya gairah hidup.
Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan
hidup, bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan
membebaskan diri dari penderitaan, dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari
kehidupan. Sikap positif biasanya kreatif, tidak mudah menyerah, bahkan mungkin
timbul sikap keras atau sikap anti, misalnya anti kawin paksa, ia berjuang
menentang kawin paksa; anti ibu tiri, ia berjuang melawan sikap ibu tiri; anti
kekerasan, ia berjuang menentang kekerasan, dll.
2.4 Studi Kasus
Penderitaan, media masa dan seniman adalah 3 hal yang tidak
bisa dipisahkan. Penderitaan hampir merata di permukaan bumi ini, banyak kasus
– kasus penderitaan seperti kelaparan, kemiskinan, dll. Semua informasi itu
bisa kita peroleh dengan sangat mudah seiring kemajuan zaman dan pengaruh
globalisasi melalui media masa, baik itu media cetak maupun media elektronik.
Media cetak seperti Koran, majalah, dan lain lain selalu
menyajikan informasi – informasi terbaru setiap harinya. Media elektronik pun
demikian, seiring berkembangnya teknologi yang memudahkan kita untuk menggali informasi
sebanyak – banyaknya bukan hanya melalui siaran radio dan televisi tapi kini
kita bisa mengakses informasi melalui internet, dll. Kehadiran smartphone dan
gadget – gadget canggih lainnya yang berbasis sitem operasi android dan ios pun
turut menunjang kinerja media elektronik untuk menyampaikan informasi terbaru.
Seniman, mereka lah yang dapat menggambarkan suasana hati
dalam bentuk apapun, baik itu dalam visual maupun audio. Visual seperti
lukisan, wayang, dll. Sedangkan dalam audio mereka dapat menuangkannya kedalam
lirik lagu, puisi, dan lain lain. Tapi terkadang hasil karya mereka dapat
menimbulkan suatu kontroversi bahkan propaganda karena hasil karyanya tidak
bisa diterima oleh masyarakat yang menilainya karena adanya perbedaan pendapat
dll.
Kelaparan adalah salah satu penderitaan global yang hampir
ada di setiap sudut – sudut Negara. Bukan hanya di Negara – Negara yang
tertinggal atau di dataran Afrika, tapi di Negara – Negara besar dan super
power pun masih dapat kita temukan orang orang yang kelaparan, baik itu
gelandangan, pengemis, dll.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa benua Afrika adalah benua
yang memiliki tingkat kelaparan paling besar di dunia. Penderita gizi buruk dan
busung lapar sudah menjadi pemandangan yang tidak asing disana. Tidak ada
makanan dan tidak ada air, yang ada hanyalah tanah yang tandus dan gersang.
Tanah pun mereka makan untuk mengganjal perut mereka tanpa memperdulikan
higientias seperti orang – orang pada umumnya. Tubuh mulai kurus dan perut kian
membuncit, itulah mereka yang hidup dalam penderitaan akibat kelaparan yang
hingga kini tidak ada solusinya. Hanya segelintir orang yang berhati mulia yang
mau menolong mereka dengan cara menjadi sukarelawan atau hanya sekedar
menyumbang uang kepada penyalur, dsb.
Mari kita tengok Negara kita tercinta ini, disebelah timur
Indonesia hampir mengalami nasib yang sama dengan saudara – saudara kita di
Afrika. Padahal Negara kita dikenal sebagai Negara yang sangat kaya, seperti
yang dituliskan dalam suatu lirik lagu “ orang bilang tanah kita tanah surga,
tongkat kayu dan batu jadi tanaman “. Tapi nyatanya tidak semua daerah bisa
mengolah sumber daya alamnya dengan baik, bahkan kini pihak asinglah yang
mengelola sumber daya alam kita.
Suatu kesalahan besar bangsa ini mempersilahkan orang asing
mengolah sumber daya kita karena ketidak mampuan kita untuk mengolahnya, lalu
mereka membawa hasil bumi kita ke negaranya dengan harga yang murah dan dijual
dengan harga yang setinggi – tingginya, sedangkan kita bisa lihat apa yang kita
dapatkan dari hasil kerjasama ini ? tidak ada. Yang ada hanyalah sumber daya
alam yang terus menipis dan kita menjual hasil bumi kita sendiri dengan harga
yang mahal di negeri sendiri, bukankah itu bodoh ? yang kita butuhkan hanyalah
seorang pemimpin yang dapat mengambil langkah tegas untuk mengubah Indonesia
menjadi bangsa yang mandiri dan tidak bergantung kepada bangsa lain yang
sebenarnya menipu kita.
Selanjutnya adalah media masa, mereka yang paling berjasa
dalam memberikan informasi kepada semua orang. Tiap detik di hidup kita pasti
ada banyak peristiwa yang terjadi di sekeliling kita, dan media masa akan
berusaha menginformasikan peristiwa tersebut kepada kita.
Mulai dari radio, televisi, hingga internet, mereka siap
memberikan informasi – informasi terbaru khususnya internet yang kini sudah
tidak diragukan lagi kehadirannya. Hanya dengan mengakses salah satu situs
mesin pencari dan memasukan kata kunci yang akan kita cari, maka dengan
mudahnya kita mendapatkan informasi yang kita cari berkat adanya internet.
Dampak penggunaan internet sendiri pun beragam, ada yang
positif ada juga yang negatif. Semua itu tergantung kepada para pengguna,
bagaimana kita menyikapinya. Dampak positifnya adalah kita dapat memperoleh
informasi lebih mudah dan cepat daripada harus mencari sumber dari buku ataupun
narasumber yang akan diwawancara. Namun ada juga dampak negatifnya, dikarenakan
bebasnya akses dan kurangnya keamanan, maka internet pun sering kali disalah
gunakan. Misalanya untuk mengakses situs – situs pornografi, bahkan anak kecil
pun kini sudah bisa mengakses situs – situs tersebut karena kurangnya keamanan
dan kurangnya perhatian dari orang tuanya.
Seniman, kini orang hanya tahu kalau seniman itu hanya
sekedar penyanyi yang tampil di tv. Itu bukan seniman sesungguhnya. Pelukis,
dalang, penyair, mereka adalah seniman yang mampu menuangkan apa yg ada
disekelilingnya menjadi sebuah karya seni, entah itu lukisan, sajak atau puisi,
cerita wayang, lirik lagu, dll.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Dalam materi ini kita dapet
mengetahui tentang apa itu penderitaan, Kehidupan manusia tidak akan datar
pasti bergelombang maksudnya pasti ada yang menyenagkan dan menyusahkan.
Pederitaan juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan manusia, rasa sakit,
siksaan menuntut manusia auntuk bankit nenjadi lebih baik namun ada yang tidak
kuat sehingga terjadi kekalutan Mental. Apa bila manusia tidak mampu melewati
sesuai denan khaidah agama manusia akan mendapat penderitaan di akhirat berupa
pemyiksaan di dalam neraka.
Dalam menghadapi penderitaan setiap
orang pasti melakukan hal yang berbeda untuk menahan atau menyikapinya, ada
yang menyikapinya dengan tindakan positif dan negatif, misalkan yang positif ia
akan lebih berusaha agar tidak mendapatkan penderitaan yang ia sudah alami
bahkan bisa menjadikannya sebagai sebuah peluang dalam melakukang sebuah
inovasi baru, sedangkan yang negatif ia akan trauma dan membuat kondisi ia
menjadi labil karena terlalu berlebihan mengikapi penderitaannya dan bahkan
sampai ingin bunuh diri. Untuk itu kesehatan rohani setiap orang harus dijaga
agar terhindar dari kekalutan mental yang bisa merusak psikis kita.
3.2 Saran
Diharapkan kalangan mahasiswa dan
pembaca dapat melakukan penelitian lebih lanjut pada sub bab. Mengingat luasnya
pembahasan dalam makalah ini. Sehingga dapat memahami lebih dalam.
DAFTAR PUSTAKA
http://exalute.wordpress.com/2009/03/29/manusia-dan-penderitaan/
http://arbip.blogspot.com/2010/04/manusia-dan-penderitaan
http://arbip.blogspot.com/2010/04/manusia-dan-penderitaan
htmlhttp://arbip.blogspot.com/2010/04/manusia-dan-penderitaan.html
http://www.ujank.web.id/Coretan-Tugas/manusia-dan-penderitaan.html
http://ochaayu.blogspot.com/2010/04/pengertian-penderitaan.html
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/03/tugas-ibd-manusia-dan-penderitaan-minggu3/
http://www.ujank.web.id/Coretan-Tugas/manusia-dan-penderitaan.html
http://ochaayu.blogspot.com/2010/04/pengertian-penderitaan.html
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/03/tugas-ibd-manusia-dan-penderitaan-minggu3/